Pages

Total Pageviews

Sunday, 2 February 2014

Sabar, Moyes Butuh Waktu

Manchester United tim medioker ? Kalau diliat dari sejarah dan performa mereka selama ini (sebelum musim ini) berlangsung, pasti banyak yang tak menyetujui jika julukan ini disematkan untuk tim yang baru saja merengkh titel Liga Inggris ke 20, sekaligus menjadikan Sir Alex Ferguson sebagai manajer tersukses di Liga Inggris. Lepas dari kontroversi yang dia hasilkan, tak bisa dipungkiri bahwa dia adalah manajer yang hebat yang siapa yang akan menebak 18 gelar liga Inggris yang dipegang oleh Liverpool akan di salip oleh MU bahkan unggul sampai 2 gelar.

Tapi di musim ini, di bawah kendali “The Chosen One”, David Moyes, mereka tampil bak tim medioker, yang bertarung untuk memperebutkan papan tengah Liga Inggris. Ya dan tentu saja bisa anda tebak, dengan hasil seperti ini banyak sekali fans MU yang meminta agar Moyes dipecat sesegera mungkin. Mereka lupa bahwa ini adalah musim pertama Moyes mengambil alih kendali dari sang bos besar Fergie. Mereka lupa bahwa setiap tim manapun pasti butuh adaptasi dengan pelatih baru. Mungkin kasus ini bisa disamakan dengan Liverpool yang musim lalu mendarat di posisi ke 7 di musim pertama Brendan Rodgers.

Kecewa? Pasti banyak fans MU yang kecewa dengan hasil yang diperoleh MU sejauh ini. Dan rata-rata mereka adalah fans baru yang memang tak biasa melihat MU untuk kalah karena selalu terbuai dengan kesuksesan dari tangan dingin Ferguson. Mereka lupa, di awal karir sang bos di MU, dia pun butuh waktu 4 tahun untuk mendapatkan gelar pertamanya, setelah itu dia tak terbendung lagi, menghancurkan dominasi Liverpool yang puluhan tahun merajai Liga Inggris.

Tapi zaman sekarang, dimana kesabaran itu hal yang mahal, dimana banyak pemilik asing di klub-klub  Inggris (MU pun memiliki Glazer yang asal Amerika) yang hanya berorientasi tentang bisnis sehingga mereka menginginkan kesuksesan instan seperti halnya Chelsea yang sudah memecat pelatihnya berkali-kali tapi memang membuahkan hasil dengan berhasil meraih gelar. Dan para fans tim lain pun semakin menjadi-jadi melihat keberhasilan Chelsea yang walaupun memecat pelatih berkali-kali dan malah berhasil menggapai kesuksesan.

Untuk fans MU, banyak-banyaklah belajar dari fans Liverpool dan Arsenalm terutama dengan Arsenal yang walaupun tak pernah mendapat gelar apapun selama 9 tahun, tapi mereka tetap sabar untuk mendukung Arsenal di bawah kendali Opa Wenger yang notabene menggantikan posisi Fergie sebagai manajer terlama di Liga Inggris. Jangan hanya gara-gara MU kalah terus-terusan malah pindah klub lain, itu karbitan, konyol.

Moyes butuh waktu untuk membangun fondasi baru MU sesuai dengan yang ia inginkan. Memang mungkin ia membuat blunder di awal musim dengan mendatangkan Fellaini dengan transfer yang lumayan “waw” tapi malah jeblok dan kalah bersaing dengan pemain-pemain lama MU lainya, bahkan kalah performanya dengan si gaek Giggs. Tapi sekali lagi, Moyes butuh waktu, ia bukanlah orang pintar dengan taktik jenius seperti Guardiola. Ia hanya mantan pelatih Everton yang notabene hanyalah tim papan tengah di Inggris. Berbeda dengan di Everton yang tekananya tidak terlalu besar karena mereka hanya dituntut untuk finish setinggi mungkin dan terhindar dari papan bawah, MU adalah tim papan atas yang juga selalu punya tuntutan besar untuk selalu meraih gelar setiap musim. Di Everton, Moyes hanya punya dana sedikit untuk membangun tim tapi ia bisa bertahan lama disana karena memang dia berhasil untuk membawa Everton tak berada di papan bawah, bahkan berhasil menembus zona champion di musim 2004/2005. Di MU, dengan dana melimpah ia bisa dengan seenak udel untuk membongkar pasang tim sebenarnya. Tapi ia tak punya banyak waktu saat musim panas tahun lalu. Incaranya, Thiago Alcantara dan Cesc Fabregas yang diproyeksikan untuk menggantikan posisi sang leader lini tengah, Paul Scholes tak bisa didapat karena Thiago memilih pindah ke Muenchen dan Fabregas memilih bertahan dan saya yakin tak akan mau pindah ke MU karena cintanya untuk Arsenal.
Alhasil ia pun “hanya” mendapat mantan pemainya di Everton, Fellaini yang didatangkan dengan ekspektasi besar ternyata malah nol.

Tapi beruntunglah Moyes karena berhasil mendapatkan Juan Mata yang secara mengejutkan dilepas oleh Chelsea. Tapi dengan datangnya Mata, bukan berarti masalah selesai. Penumpukan pemain di posisi Mata terlalu banyak. Sejujurnya MU lebih butuh gelandang, seorang maker yang bisa mengontrol pertandingan layaknya Scholes.

Langkah awal merevolusi MU sudah mulai terlihat dengan dibuangnya Anderson, Fabio dan Zaha. Pemain itu memang tak terlalu dibutuhkan dan jarang sekali dimainkan oleh Moyes. Di musim depan pun sepertinya akan ada eksodus di MU. Tentara tua peninggalan Fergie seperti Ferdinand, Vidic, Evra, Nani dan pemain lainya yang mulai menua dan tak terpakai sepertinya akan pergi meninggalkan Old Trafford.

Jadi sebaiknya jika kalian memang mecintai MU, benar-benar fans MU, dukung mereka, dukung Moyes jangan cengeng sedikit-sedikit memaki minta Moyes dipecat.
Revolusi butuh waktu dan Moyes butuh waktu entah cepat atau lambat, MU pasti akan bangkit kembali dan jadi macan ganas kembali. Jangan pernah jadi karbit karena itu hanyalah untuk supporter dengan mental tempe yang labil.


Kesabaran memang terbatas, tapi pasti akan menhasilkan sesuatu yang baik nantinya, jadi bersabarlah fans Manchester United!

Saturday, 4 January 2014

Andai Saya Erick Thohir

Tahun 2013, dunia persepakbolaan Indonesia dan juga dunia dikejutkan oleh keinginan dari seorang pengusaha Indonesia yang berniat untuk mengakusisi klub dari kota mode di Italia, Inter Milan.
Di awalnya, banyak orang memandang skeptis, "siapa sih orang ini? Dia dari Indonesia?" Dia agak dianggap remeh karena memang jika dibandingkan dengan Italia yang negara maju, Indonesia hanyalah negara berkembang yang prestasi sepakbolanya hanyalah sekecil kuku jika dibandingan dengan Italia.
Tapi, Erick Tohir berhasil menjungkirbalikan pendapat orang-orang tersebut, ia berhasil membeli Inter Milan dari tangan sang presiden legendaris, Masimmo Moratti dan Thohir pun sah menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi presiden klub di Italia, bukan klub ecek-ecek, tapi klub yang telah dikenal di seantero jagad.

Di sini, saya tidak ingin membahas tentang Inter Milan atau ambisi dari seorang Thohir yang saya pikir agak gila walau jujur saya bangga bisa melihat orang Indonesia mempunyai klub besar di Eropa, sesuatu yang tak lazim sebenarnya.
Saya ingin fokuskan kepada satu pertanyaan, kenapa Erick Thohir tidak menginvestasikan dananya di Liga Indonesia? Setau saya memang dia termasuk dalam salah satu jajaran manajemen dari Persib Bandung, tapi jika ia bisa bersaing dan akhirnya mendapatkan Inter Milan, tentu uang yang ia punya sangat banyak yang bisa digunakan untuk membangun sepakbola di Indonesia.
Saya rasa, pembelian Inter Milan ini adalah salah satu ambisi dari seorang Erick Thohir untuk meningkatkan nama Indonesia di mata dunia dan juga ibaratkan adalah keinginan dari hati untuk memiliki sebuah klub di Eropa yang memang sangat terkenal. Saya juga merasakan dan bermimpi bisa mempunyai klub yang saya favoritkan dan mengelolanya, mimpi bebas lho.

Jika saya adalah seorang Erick Thohir, saya tidak akan membeli Inter Milan. "Lho kenapa mas? Kan keren?" Saya lebih memilih untuk membeli salah satu klub di Indonesia dan mulai membangunya secara perlahan. Mungkin Erick Thohir bisa membeli Persib Bandung, membeli stadion GBLA agar dikelola oleh jajaran manajemen dari Persib Bandung sendiri dan lepas dari tangan pemkot. Dengan uangnya, tak sulit untuk Thohir untuk membangun pusat pelatihan yang canggih, pelatihan untuk pemain muda yang mumpuni yang tentu saja tak hanya bermanfaat bagi Persib, tapi juga untuk timnas Indonesia ke depanya.

Saya baru saja membaca artikel di Goal.com, wawancara dengan Direktur Kompetisi J-League (Liga Jepang). Saya pernah dengar bahwa dulu Jepang malah belajar pengelolaan kompetisi dari Indonesia saat era Galatama, tapi kita telah tertinggal jauh sekarang.
Di dalam wawancara tersebut, sang Direktur ini  bilang bahwa potensi sepakbola di Indonesia (khususnya tingkat ASEAN0 itu tidak kalah dengan negara asia lainya. Bahkan macan ASEAN, Thailand, dulu perna mengalahkan Jepang 5-2. Saya juga ingat perkataan seorang legenda Indonesia "Jepang, Korea, China lewat semua,kita babat habis!" Ya, kebanggaan masa lalu.
Potensi sepabloa ASEAN, itu sangat berpotensi untuk menjadi lebih baik  lagi, asalkan dikelola secara profesional dan pelan-pelan.
Jepang tidak medapatkan hasil yang didapatnya sekarang secara instan, bahkan J-League secara resmi dimulai tahun 1991, agak terlambat, tapi lihat di PD 2002 mereka berhasil menyingkirkan Italia dan secara kontinu selalu masuk di Piala Dunia. Si direktur sendiri juga bilang bahwa sebenarnya pengusaha di ASEAN itu banyak tapi mereka lebih banyak  menginvestasikan uangnya di luar negeri.
Saat dia ditanya pendapat tentang Thohir dia menjawab "Jika pengusaha seperti Thohir berinvestasi di negeri mereka sendiri, mereka bisa mencapai raihan tertinggi yang, bahkan tak bisa dilakukan klub-klub Jepang."

Jika saja pengusaha-pengusaha kaya di Indonesia berani menginvestasikan uangnya di Indonesia, saya cukup yakin sepakbola akan berkembang pesat di sini. Saya pun punya mimpi jika saya menjadi pengusaha sukses di masa yang akan datang, saya ingin membeli Persija Jakarta, klub favorit saya sejak kecil dan mengelolanya dengan profesional, mimpi sabeb kakak.

Memang kendala yang juga pasti di pikir oleh Thohir jika ingin membeli klub Indonesia adalah faktor kurang becusnya pejabat kalangan atas, judi marak dan potensi kerusuhan yang suka sering terjadi yang tentu saja merugikan klub dan yang penting adalah potensi bisnis yang tak terlalu meguntungkan, makanya Thohir lebih memilih untuk menginvestasikan uangnya di Inter, yang notabene fanbasenya da di seluruh dunia sehingga potensi bisnis yang tinggi.

Semoga kelak akan ada pengusah Indonesia yang berani untuk mengambil resiko di Indones, bukan hanya demi kepentingan klub tapi demi kebaikan Indonesia ke depanya, amin.

Mendaki Gunung, Kepuasan yang Tak Tertandingi

Sekarang, setelah booming film 5cm yang menceritakan tentang persahabatan yg berakhirnya dengan menaiki gunung Semeru, semua orang seakan terhipnotis untuk naik gunung.
Padahal dulu mereka tak akan pernah membayangkan untuk naik gunung, memang film adalah media untuk menghipnotis yang ampuh.

Memang saya akui, setelah baca novel 5cm, secara tak sadar kita pun punya keinginan untuk menaiki Gunung Semeru, sang dewa Jawa, tertinggi di pulau Jawa. Tapi konyolnya, banyak pendaki pemula yang belum pernah mendaki gunung dan setelah terhipnotis film itu, langsung menargetkan untuk naik ke Gunung Semeru, konyol.

Naik gunung, yah saya juga salah satu pendaki, salah satu pencinta alam. Sayang hasrat saya baru bisa terwujud saat di Universitas, padahal saya sudah punya keinginan sejak kecil karena ayah saya juga tergabung di kampusnya saat beliau masih menjadi mahasiswa. Dan uniknya, beliau belum pernah mendaki Semeru walau sudah berhasil mencapai puncak Rinjani.

Apa sih sebenarnya yang membuat mendaki gunung itu menarik? Saya harus jujur bahwa naik gunung itu melelahkan, menguras tenaga, menguras duit dan mempertaruhkan tenaga. Tapi........
Jika kalian menyukai pemandanga alam yang alami, kalian pasti ketagihan jika sudah mendaki gunung. Dan keinginan untuk mendaki gunung akan kembali muncul lagi dan lagi.
Kelelahan saat mendaki gunung dalam sekejap akan hilang setelah kita mencapai puncak. 
Rasa puas, bangga dan lelah melebur menjadi satu setelah kita berhasil menggapai puncaknya. Melihat pemandangan dari atas puncak adalah pengalaman yang membahagiakan, suatu pengalaman yang akan menjadi salah satu yang berkesan .

Nyawa, ya nyawa. Sudah berapa banyak nyawa yang pulang ke pangkuan yang kuasa saat mereka berusaha untuk menggapai puncak. Ada beberapa yang memang karena faktor alam seperti Soe Hok Gie yang wafat di saat pendakian ke Semeru karena menghirup gas beracun. Tapi banyak juga yang wafat karena seperti meremehkan gunung. Membawa perbekalan, peralatan seadanya saja padahal seharusnya mereka sudah harus mengetahui bawaan apa saja yang harus dibawa saat mendaki gunung. Cuaca yang tak bisa ditebak saat kita mendaki juga menjadi salah satu pertimbangan apa yang harus kita bawa saat mendaki gunung. Ada yang meninggal karena kedinginan, saat dicek dia tidak membawa sleeping bag, kan konyol.
Memang saya sering melihat orang-ornag yang hanya bermodalkan jaket, kupluk, celana panjang, sarung dan rokok saja, tapi mereka biasanya adalah orang-orang yang memang sudah terbiasa mendaki gunung jadi jangan disamakan dengan kita yang masih pemula. Kitya mendaki gunung untuk mencari kepuasan, melihat keindahan alam, bukan untuk mati konyol !

Seperti kata orang-orang, Indonesia itu indah, masih aja gak kemana-mana ? Masih aja main di Mall?
Kebanyakan orang hanya ingin cepat sampai ke puncak tanpa ingin berjuang untuk mencapai puncak karena mereka hanya ingin foto-foto diatas puncak. Kenikmatan mendaki gunung sesungguhnya adalah ketika kalian berusaha dari bawah untuk mencapai puncak dan saat kalian di puncak kalian akan merasakan sendiri bagaimana puasnya kalian setelah berjuang dan hasilnya adalah keindahan alam yang tak tertandingi.

Mendaki adalah olahraga mahal, mempertaruhkan nyawa, tapi asal kita percaya pada Tuhan masing-masingh dan telah mempersiapkan semuanya dengan baik, percayalah tidak akan terjadi apa-apa selain kepuasan yang tak terlupakan.

Saya coba kasih foto-foto saya saat naik gunung, kali jadi candu hahaha.

-Gunung Ciremai










- Gunung Guntur








Wednesday, 1 January 2014

2014, Tahun Politik Telah Datang!

Selamat datang tahun 2014! Tahun dimana semua hal akan dimulai kembali dari awal.
Harapan? Pasti selalu ada harapan yang diinginkan di tahun baru ini. Lebih baik dan blablablabla omong kosong tetek bengek lainya selalu menjadi harapan yang biasa di tulis oleh orang-orang entah di media sosial atau di tempat lain yang bisa jadi tempat mereka untuk mengungkapkan harapan mereka tersebut.

Yap 2014. Tahun politik, tahun para pecinta sepakbola. Tahun ini adalah tahun dimana kita akan disuguhi 2 even besar di Indonesia dan juga di dunia. Pemilu Presiden untuk menggantikan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah menjadi ujung tombak negara kita selama 2 periode dan yang telah kita nanti-nantikan Piala Dunia 2014 (yah Indonesia lagi-lagi hanya jadi penonton saja).

2014, tahun politik, Pemilu Presiden. Ini adalah saat-saat menentukan untuk seluruh rakyat Indonesia. Mungkin akan ada yg skeptis "ah sudahlah presidenya siapapun nasibku tetap begini saja." Tapi bagi saya, dengan pemilihan Presiden ini, menentukan akan dibawa kemana Indonesia selanjutnya setelah pemerintahan SBY.
Apakah Presiden berikutnya akan melanjutkan kinerja Presiden SBY yang mungkin di mata sebagian orang memang agak lamban (tapi kalau menurut saya, kalau SBY dinilai kurang kinerjanya gak mungkin dia terpilih sebagai presiden selama 2 periode) atau menjadi Presiden dengan kualitas yang lebih baik lagi? Who knows?

Calon-calon yang muncul yah sama seperti pemilu periode lalu, itu lagi-itu lagi.
Sang capres abadi, Prabowo dan Wiranto kembali muncul untuk mencoba peruntungan apakah berhasil menjadi Presiden atau malah tetap setia menjadi capres abadi Indonesia selamanya.

Sang mantan Presiden wanita pertama Indonesia, Megawati Soekarnoputri dikabarkan masih berminat untuk kembali mengikuti pilpres, mungkin ia masih penasaran untuk memimpin negara ini.

BOSAN, melihat calon presiden masih dari itu-itu saja. Tidak ada refreshing pimpinan sama sekali. Kalau menurut saya yang konyol ialah pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden untuk periode berikutynya dari salah satu partai terbesar di Indonesia, Golkar. Apakah dia tak berpikir bahwa masih banyak korban Lapindo yang menunggu janji darinya untuk mengganti rugi semua kerugian masyarakat yang menderita karena terkena dampak Lapindo? Saya jujur merasa prihatin dengan partai kuning tersebut yang masih mau mencalonkan Ical, panggilan untuk Aburizal Bakrie, dimana dia masih dalam masalah Lapindo tersebut. Saya tau dengan kapasitasnya sebagai ketua umum Partai Golkar, dia berhak untuk dicalonkan sebagai capres. Dengan dukungan dana melimpah dari Ical yang juga salah satu pengusaha terkaya di Indonesia sebenarnya sah-sah saja jika dia mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi sejujurnya dia seharusnya sadar diri dan malu (kalau saya sih begitu) dia berani mencalonkan diri sebagi Presiden tapi masih ada Lapindo yang belum terselesaikan, MIRIS.

Patut diperhatikan melihat tokoh baru yang muncul. Salah satu fenomena di Indonesia, sang mantan walikota Solo yang sekarang berkuasa sebagai Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau biasa dipanggil sebagai
Jokowi yang digadang-gadang akan menjadi calon presiden yang terkuat jika ia turun dalam pemilu.
Jokowi jika diajak untuk berbicara tentang kemungkinan untuk menjadi presiden akan selalu mengelak dan berkata ingin konsentrasi untuk mengurus Jakarta yang baru saja dipimpinya. Saya akui fenomena Jokowi benar-benar meledak di Indonesia sehingga dalam jajak pendapat capres, dia selalu menempati tempat tertinggi. Jokowi, si gubernur gaul penyuka band metallica, kalau menurut saya dia hanya menunggu perintah dari atasanya, Megawati. Jika Mega memerintahkanya untuk turun dalam pemilu, maka ia akan manut-manut untuk bertarung di pemilu presiden walau banyak orang Jakarta dan saya tentunya tak menghendaki itu. Saya dan segenap warga Jakarta menghendakinya untuk membereska Jakarta terlebih dahulu, dengan progres yang baik saya yakin saat selesainya periode kepemimpinanya di Jakarta nanti, Jakarta sudah mendekati sempurna walau memang kemacetan dan banjir adalah musuh utama, musuh besar bagi seluruh orang.

Fenomena baru yang juga turut saya setujui untuk bertarung di pilpres nanti adalah Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan. Mencoba untuk berjudi dengan mengikuti konvensi Partai Demokrat. Apasih konvensi itu? Yaitu penyaringan bakal calon presiden yang diadakan Partai Demokrat untuk mencari bibit-bibit pemimpin yang akan dicalonkan untuk menjadi Presiden. Dengan tidak diperbolehkanya SBY, si pengeruk suara untuk turun di pemilu, maka Demokrat mencari cara agar bisa memenangkan pemilu tersebut. Bahkan ada wacana SBY jadi cawapres, tapi yah kita tak tau akan seperti apa nanti.
Oke balik ke Bang Anies, dia tokoh muda. Akademisi dari salah satu Universitas yang baik, tapi apakah bisa ia bertarung di pilpres. Jangankan di pilpres, di konvensi pun akan susah karena sainganya Dahlan Iskan, si menteri BUMN yang terdengar kemana-mana. Sedangkan Anies untuk sebagian orang malah baru terdengar sekarang. Dia membuat apa yang disebut dengan #AyoTurunTangan yang bertujuan untuk mengajak seluruh masyaratak untuk turun tangan membereskan masalah di Indonesia ini.

Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mencalonkan diri sebagai capres tapi saya tak terlalu tertarik untuk membahasnya seperti Raja Dangdut Rhoma Irama, Mahfud, Jusuf Kalla dan lain-lain.
Waktu untuk pemilu masih lama, lebih baik kita perhatikan para calon tersebut, bagaimana sikap mereka dan pada akhirnya kita tentukan nasib mereka dengan memilih salah satu dari mereka yang memang sesuai dengan hati anda dan anda yakin dia akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, amin.

Saturday, 21 December 2013

Hidup Itu Pilihan

Pernahkah terbersit di pikiranmu saat anda sedang sendiri di suatu tempat, pikiran yang giba-tiba saja datang menyergapmu membuatmu berpikir “siapa saya sebenarnya?”

Jujur, saya juga pernah seperti itu, mungkin sering entah kenapa. Saya merasa seperti seorang yang tak punya jati diri, tak punya pendirian yang hanya ikut-ikut teman dalam melakukan sesuatu. Seseorang yang penuh dengan kesendirian walau di sekelilingnya begitu ramai dengan hiruk pikuk manusia-manusia yang berlalu lalang tapi pikiran kita melanglang buana entah kemana. Siapa saya? Apa yang saya lakukan disini? Mau jadi apa saya? Apakah saya bisa? Apa saya mampu? Apa saya bisa bertahan?

Hidup itu pilihan sebetulnya kalau menurut saya ada dua pilihan, apakah anda ingin menjadi seorang yang biasa-biasa saja tak melakukan sesuatu hal yang berguna atau anda ingin menjadi seseorang yang berguna untuk siapapun.

Saya masih remaja, beranjak dewasa. Begitu banyak hal yang tiba-tiba datang menyergap pikiran. Begitu banyak pemikiran yang tak bisa dijawab oleh saya lalu hanya saya tinggalkan begitu saja karena saya anggap itu tak penting. Saya adalah orang kelewat santai yang jujur saya menyadari itu adalah sifat yang merugikan untuk diri saya sendiri. Saya bisa serius jika memang itu benar-benar menarik perhatian saya, jika tidak maka susah sekali saya untuk serius walau secara tiba-tiba pikiran tadi pun muncul kembali yang membuat saya berpikir “kenapa saya harus terus-terusan seperti ini? Saya tak mau tertiggal dari teman-tema yang lain. Saya takut tertinggal, saya ingin maju seperti mereka.”

Tapi memang, pikiran itu pun hanya lewat saja tanpa jejak. Saya menyesali sifat saya ini karena entah kenapa ini seperti penyakit yang susah hilang dari diri saya.

Siapa saya sebenarnya? Saya hanya seorang remaja 18 tahun yang sebentar lagi akan menyelesaikan semester 3 dan akan pergi ke Malaysia untuk job training selama 6 bulan. Meninggalkan semua orang disini demi masa depan yang lebih baik.

Tentu saya berharap akan menjadi lebih baik saat pulang kembali ke Indonesia, menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang yang cenderung merusak diri sendiri. Seorang remaja yang bisa dibilang tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan sesuatu hal yang sebetulnya sudah terlalu lama untuk dipendam menjadi seorang yang punya kepercayaan diri lebih baik dan tentu saja berguna untuk siapapun.

Seperti saya bilang barusan, hidup itu pilihan. Lalu apa yang kita akan pilih? Kita bagaikan sebuah novell yang bahkan belum terisi setengahnya. Lembarang kosong itu akan kita isi dengan cerita, pengalaman hidup kita sendiri yang tentu juga akan menajdi piihan untuk kita akan seperti apa cerita kelanjutanya. Akankah berisi tentang kesuksesan atau malah penderitaan, kehancuran dan hal buruk lainya.

What will you choose? Its your choice…

Thursday, 14 November 2013

Saatnya Liverpool ?



New season, new passion, same hope. Yap sebagai fans Liverpool selalu mempunyai harapan sama walau di akhir kita selalu dikecewakan. Jangankan juara liga Inggris, untuk masuk Liga Champion saja susahnya minta ampun dengan performa yang amburadul. Tapi musim ini, seperti ada secercah harapan dari Liverpool untuk fansnya. Performa gemilang, walau masih agak inkonsisten tepatnya. Terlihat saat kita dikalahkan Arsenal 2-0. Kita seperti dipermainkan oleh mereka. Lini tengah kita tak berjalan dengan baik. Para gelandang Liverpool seperti kebingungan untuk menghadapi kecepatan pemain Arsenal. Lucas Leiva yang diharapkan bisa membendung ternyata bermain kurang baik (kalau tidak dibilang buruk) sehingga sang kapten, Gerrard yang pada awalnya ditugaskan untuk menyuplai bola kepada duet mau Liverpool, SAS, tidak bisa bekerja dengan baik karena konsentrasinya terpecah belah untuk membantu pertahanan.

Okelah saatnya kita berbicara yang lain, untungnya Liverpool berhasil menang 4-0 saat membantai Fulham. Musim ini akhirnya kita memiliki penyerang handal. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Duet SAS, Suarez Sturridge begitu menggila musim ini. Mereka berdua berhasil mecetak 8 gol dan produktivitas Liverpool ke-3 tertajam di Liga Inggris dengan 21 gol (16 gol berasal dari duet SAS).
Mungkin yang dibutuhkan Liverpool adalah pelapis mereka, memang kita masih mempunyai Iago Aspas di bench, tapi performanya saat di awal musim kurang begitu memuaskan Rodgers sehingga ia pun semakin jarang mendapat kesempatan untuk bermain.





Glen Johnson pun berkata, “Skuad Liverpool musim ini adalah skuad terbaik selama saya berada di Liverpool.” Ya dengan performa seperti ini saya rasa tak ada yang tak mungkin bagi kita untuk merayakan sesuatu di akhir musim. Asalkan kitaa konsisten dan bisa mengulang prestasi 2008 saat kita jadi pemimpin klasemen sampai paruh musim walau akhirnya kitya kalah dari United. Untuk pertama kalinya saya merasa senang saat MU menang karena mereka mengalahkan Arsenal yang membuat jarak poin Liverpool dan Arsenal hanya 2 poin saja (Thanks United). Tapi jangan lupakan pesaing lainya seperti Chelsea, City, Spurs dan tentu saja rival abadi kita, Manchester United. Mungkin mereka sekarang dibawah kita, tapi Liverpool harus tetap waspada terutama United yang memang mempunyai reputasi agak buruk start awal musim tapi paruh kedua melesat kencang. Asalkan kita bisa mempertahankan performa dan duet SAS terus menggila, we had a chance man.

Saatnya untuk Liverpool juara ? Why not?

Politik, Uang dan Sepakbola



Politik, politik dan politik. Hampir semua aspek di negeri ini dipenuhi oleh berbagai kepentingan politik.
Tidak hanya di DPR, politik pun memasuki dunia yang sesungguhnya harus dijauhi dari kepentingan politik, olahraga.

Di Indonesia, dengan penduduk jutaan jiwa, seharusnya tidak sulit untuk mencari bakat-bakat besar yang hanya tinggal dipoles sehingga bias menjadi bintang-bintang olahraga yang akan mengharumkan Indonesia di kancah olahraga dunia, MIRIS.

Oke, saya hanya focus ke sepakbola karena olahraga ini adalah penyedot massa terbesar di negeri koruptor ini. Maaf saya bilang negeri koruptor karena MEMANG kenyataanya Negara ini penuh dengan koruptor keji yang tega mencuri miliaran rupiah untuk kepentingan pribadi dan melupakan rakyat yang telah memilihnya untuk menduduki kursi di DPR. Walau gaji mereka sudah besar, tapi godaan untuk mencuri tetap besar, karena uang yang ditawarkan pun gila.

Sepakbola, Indonesia sesungguhnya tidak kalah potensinya jika disbanding dengan Brazil. Saya tak muluk tapi ini kenyataanya. Perbedaan kita dengan Brazil adalah pembinaan pemain. Di Brazil, Negara berkembang sama dengan Negara kita, pembinaan berjalan dengan bik, bahkan sepakbola adalah mata pencaharian mereka. Mereka berjuang untuk menjadi pemain bola karena bisa merubah standar hidup mereka. Lihat Ronaldinho, di masa kecilnya ia adalah orang yang tak berada. Sekarang ? Dia adalah pemain legenda, dengan uang berlimpah. Pembinaan disana berjalan dengan baik, beda dengan di Indonesia karena terlalu banyak permainan politik dan uang. Bahkan pemain mereka sampai dinaturalisasi berbagai Negara karena kesempatan untuk membela Brazil kecil karena terlalu banyak pemain hebat disana.

Di Indonesia, uang bermain. Mulai dari tingkat Liga tertinggi di Indonesia sampai tingkat rendah seperti SSB. Gila kan? Saya tak mengada-ngada karena memang saya tahu persis itu. Saya hanya seorang mahasiswa yang gila sepakbola dan saya bukan apa-apa di Indonesia, tapi saya tahu persis tentang gilanya orang-orang diatas yang rakus akan uang. Adik saya pernah berlatih di salah satu SSB terkenal di Jakarta ya memang saya tahu kualitasnya bagus tapi ada saja yang meminta uang agar para anak-anak tersebut bisa lebih cepat mengorbit. Yang melakukan itu adalah salah satu legenda sepakbola kita!

 Tahu program Uruguay? Itupun tak jauh dari permainan uang. Ada beberapa orang yang diminta untuk membayar agar anak mereka bisa ikut untuk mengikuti program kesana. Memang tak semua orang tapi dengan kenyataan seperti itu, betapa mirisnya Negara penggila sepakbola seperti kita.

Saya cukup senang dengan kemunculan seorang Indra Sjafrie yang bisa mencari bakat-bakat terpendam di pelosok tanah air walau saya yakin masih banyak sekali bakat terpendam di negeri ini.
Kebodohan pejabat sepakbola negeri ini yang terlalu sibuk untuk berkelahi demi menjabat sebagai orang nomor satu di sepakbola. Melupakan betapa amburadulnya sepakbola Negara kita sehingga semakin tertinggal di Asia, bahkan di ASEAN!

Dulu, ya dulu, kita adalah macan asia. Nama Indonesia membuat gentar Negara lain. Sekarang? Jangankan gentar, mereka malah menganggap remeh Negara kita. Kekuatan sepakbola kita hanya segitu-segitu saja. Hanay sedikit orang bersih di sepakbola kita. Memalukan.

Apa susahnya mencari bakat-bakat di pelosok Indonesia? Asal ada pembinaan yang jelas dan orang-orang yang bisa dipercaya, yang tak terpengaruh oleh uang, semua bisa !
Andai Bung Karno masih hidup, beliau pasti malu dengan kondisi ini. Masa kita kalah dari Singapura? Negara kecil, lebih besar Jakarta tapi mereka sudah beberapa kali juara AFF Cup. Kita? Mentok final.
Kita seperti gentar jika melawan Thailand atau manapun. Padahal jika dilihat-lihat kita tak kalah dari mereka. Ya, kita hebat bisa seperti mereka bahkan melebihi mereka asalkan kita membenahi semua aspek di sepakbola kita. Pembinaan, infrastruktur dan lain sebagainya.

Pejabat bilang tentang profesionalitas klub, sampah. Apanya yang professional jika gaji pemain saja banyak yang belum dibayar. Bahkan klub ibukota saja masih menunggak gaji para pemainya.
Klub Indonesia Cuma amatir bukan professional.

Sebenarnya, sepakbola itu ladang bisnis yang bagus, tapi para investor takut untuk menginvestasikan uangnya di sini. Kenapa ? Ya itu tadi, terlalu banyak permainan uang. Mereka lebih memilih untuk menginvestasikan di aspek lainya. Sepakbola disini terlalu ricuh, tak hanya supporter bahka pejabat pun berkelahi. Suporter mungkin bisa dimaklumi walau seharusnya mereka juga harus berubah. Tapi pejabat saja masih berkelahi bagaimana mau memberi contoh pada bawahanya? Bodoh.

Profesional tahi kucing. Kapan mau maju jika terus begini?