Kepada Yth,
Presiden/Ketua PSSI
La Nyalla Matalliti
Di tempat yang entah dimana hanya bapak dan Tuhan yang tahu
Apa kabar pak? Tidak terdengar kabar dari bapak beberapa hari ini. Hanya terdengar dari berita saja bahwa bapak tidak memenuhi panggilan dari Kejati Jatim. Bapak bagai hilang ditelan bumi.
Bapak, selalu Presiden dari PSSI, Presiden yang memimpin organisasi sepakbola yang digemari oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, apa tidak merasa malu dengan kasus yang menimpa bapak saat ini? Kenapa bapak malah melawan dan menyatakan tidak akan mengundurkan diri dari PSSI serta menuding adanya konspirasi dengan ditetapkanya bapak sebagai tersangka?
Kami kecewa pak, kami sudah berpengalaman saat PSSI dipimpin oleh Bapak Nurdin Halid dari penjara. Sebagai Ketua atau Presiden (istilah yang bapak populerkan) sudah sepatutnya memberi contoh yang baik, tapi bapak malah memberikan kesan yang buruk dengan ditetapkannya bapak sebagai tersangka kasus korupsi.
Bapak selalu menyatakan bahwa PSSI anti korupsi, diisi oleh orang-orang bersih yang tentu saja masyarakat awam pun tau bahwa yang bapak nyatakan adalah kepalsuan belaka. Di lain konteks, bahkan salah satu petinggi dari PSSI sendiri tidak bisa menjelaskan dengan benar apa itu RASISME dan terkait gaji, disaat mereka memprotes karena tidak mendapat gaji selama berbulan-bulan, KOMDIS menghukum mereka, para pemain, karena mempermalukan sepakbola dan menyatakan,
"Silakan laporkan, tidak perlu semua itu diekspresikan. Itu malah buat malu sepakbola. … Jangan bersikap begitu, main terus meskipun tidak digaji, tapi ujung-ujungnya protes ke PSSI. Kalau mau cinta profesi jadikanlah sepakbola kebanggaan meski gaji tidak turun-turun. Tapi kalau tidak mau tidak digaji, lebih baik setop bermain untuk klub itu, jangan menggadaikan profesionalisme.”(Metrotvnews, 29 Juni 2013).
Aneh, itu yang pertama kali saya pikirkan dan mungkin juga yang lain pun berpikir sama dengan saya. Di saat pemain menuntut gaji yang memang sudah menjadi hak-nya, tapi anggota bapak malah menyatakan seperti itu, dimana keadilan pak?
Ya, mungkin bapak bisa bilang kalau itu bukan dibawah kuasa bapak yang saat itu belum menjabat menjadi ketua PSSI. Bagaimana dengan kondisi sepakbola sekarang pak? Apa ada kemajuan yang berarti di persepakbolaan kita? Bapak bisa menyalahkan Menpora karena PSSI disanksi. Tapi, Menpora sudah menyatakan dari awal "Silahkan lanjutkan ISL", tapi bapak dan pemangku kebijakan lainya menstop ISL, dan anehnya klub-klub pun mendukung bapak. Apa yang bapak nyatakan kepada mereka sehingga mereka rela untuk kehilangan satu-satunya penghasilan mereka? Hanyak bapak, mereka dan Tuhan yang tahu.
Saya bukan pembenci PSSI ataupun pembenci Menpora, saya hanya ingin kembali bernyanyi di tribun bersama kawan-kawan suporter lainnya. Tapi saya ingin menyaksikan sepakbola yang bersih, menyaksikan pemain yang bermain dengan semangat tanpa ada pikiran tentang gaji yang tertunggak dan memikirkan nasib keluarga mereka di rumah. Kami tidak ingin itu pak!
Saya, kami, mohon dengan sangat agar bapak segera memenuhi panggilan Kejati agar semua ini bisa terjelaskan seluruhnya. Dan bila bapak tidak merasa melakukan kesalahan, kenapa bapak harus menghidar? Bapak bisa buktikan kalau bapak tidak salah, atau mungkin bapak takut karena salah? Hanya bapak yang tahu.
Tunjukan keberanian bapak, tunjukan kepada kami semua pak, jangan jadi pengecut!
Kami hanya bisa berdoa semoga masalah sepakbola dan masalah bapak bisa segera terselesaikan dan kami bisa berjoget di tribun kembali serta pemain bermain dengan senyum yang lepas.
Salam
Monday, 28 March 2016
Saturday, 18 April 2015
Hasil Dari Kecerdasan PSSI : #SurabayaMelawan
Hari ini, 18 April 2015.
Disaat orang-orang baru bangun dari tidurnya, ribuan bonek berkumpul di Surabaya sana untuk mendemo, mengutarakan pendapat dan menunjukan aksinya dalam rangka memprotes PSSI.
Kebodohan PSSI yang terus berulang, organisasi sepakbola yang mengatasnamakan bangsa Indonesia yang tak henti hentinya bertingkah laku tolol yang selalu bicara bahwa mereka yang terbaik, mereka yang bisa membenarkan sepakbola Indonesia mengadakan Kongres di Surabaya sana.
Bonek 1927, yang mengatasnamakan sebagai pendukung dari Persebaya yang asli, mendemo PSSI yang selama beberapa tahun ini selalu mengacuhkan salah satu klub terbesar di negara ini karena alesan yang tidak masuk akal. Mereka menyangkal dan tidak memberikan izin legalitas untuk Persebaya yang jelas-jelas asli ini. Dan mereka malah mensahkan "Persebaya Klonengan" yang dibentuk saat PSSI terbelah dua dan setelah PSSI "katanya" kembali bersatu, Persebaya yang asli pun dicampakan dan mereka mensahkan "Persebaya Klonengan" atau biasa disebut Perselanyalla merujuk pada salah satu tokoh yang berdiri dan berlindung di Organisasi Sepakbola kita..
Dan belum lama ini, stasiun tv lokal disana yang sedang membahas tentang Sejarah Persebaya, diserang oleh oknum-oknum ormas dan dengan tingkah kampungan salah satu tokoh ormas tersebut menampar Saleh Mukadar, tokoh dari Persebaya 1927 dan orang -orang yang dibawanya mengajak tawuran bonek yang sedang berada distasiun tv tersebut.
Apakah ini bangsa Indonesia yang katanya telah melalui reformasi? Mana kebebasan pers yang dijunjung tinggi? Bukankah ini memalukan? Ini semua cuma perbuatan bodoh dari oknum yang takut bahwa kebeneran yang sebenarnya akan terungkap!
Kembali ke awal ketika BOPI memundurkan kick off ISL. Semua perwakilan tim berkumpul di bandung dan mengadakan rapat dan mereka bilang "Keputusan BOPI sangat merugikan tim". Tapi ketika PSSI dengan alasan yang tidak jelas meliburkan liga yang baru berjalan 2 minggu, suara tim-tim tersebut hilang ditelan bumi, tak ada kata protes sama sekali. Apakah PSSI telah memberi uang yang banyak shingga kalian bisa diam dengan tenang? Kita tidak pernah tau selama PSSI masih seperti ini.
PSSI selalu berkelit bahwa liga sudah profesional. Tapi apa? Gaji pemain tdak dibayar dan mereka bilang profesional. Mereka bilang bahwa pemerintah tidak bisa intervensi tapi ketika Menpora mulai ikut campur, mereka seperti ketar ketir dan mengadu ke DPR dan Wapres tercinta kita yang kita tidak pernah paham pelet apa yang digunakan PSSI sehingga beliau bisa mendukung organisasi keparat itu.
PSSI bicara sudah memajukan sepakbola Indonesia? Membanggakan U-19? Halo PSSI! Kalau bukan karena Indra Syafri, Timnas kita tak akan juara! Kalau bukan karena kalian mengeksploitasi U-19 mungkin kita sudah melaju ke Piala Asia!
Saya yakin, walaupun Bonek sudah berdemo habis habisan, pejabat terhormat di PSSI tak akan sudi mendengar ocehan bonek, mereka tak akan peduli selama mereka bisa menjabat sebagai orang penting di PSSI yang berapa tahun ini selalu diperebutkan layaknya singgasana raja.
Saya dan kami semua penikmat bola yang peduli, yang bukan cuma suporter sepakbola yang hanya berpikir "yang penting tim jagoan gua main bodo amat ama urusan PSSI" berharap banyak dengan ketegasan dari Menpora untuk menindak tegas organisasi tolol yang berprestasi nol dan membuat peringkat Indonesia dibawah Timor Leste, ya TIMOR LESTE!
Teruskan perjuanganmu kawan, kami mendoakan yang terbaik dari jauh semoga perjuangan kalian akan dicerahkan dan membuka kotoran telinga pejabat-pejabat busuk tersebut.
Dari kami, pecinta dan pendamba sepakbola Indonesia untuk Persebaya 1927 dan Sepakbola Indonesia.
#SurabayaMelawan #BekukanPSSI #RevoluPSSI
Disaat orang-orang baru bangun dari tidurnya, ribuan bonek berkumpul di Surabaya sana untuk mendemo, mengutarakan pendapat dan menunjukan aksinya dalam rangka memprotes PSSI.
Kebodohan PSSI yang terus berulang, organisasi sepakbola yang mengatasnamakan bangsa Indonesia yang tak henti hentinya bertingkah laku tolol yang selalu bicara bahwa mereka yang terbaik, mereka yang bisa membenarkan sepakbola Indonesia mengadakan Kongres di Surabaya sana.
Bonek 1927, yang mengatasnamakan sebagai pendukung dari Persebaya yang asli, mendemo PSSI yang selama beberapa tahun ini selalu mengacuhkan salah satu klub terbesar di negara ini karena alesan yang tidak masuk akal. Mereka menyangkal dan tidak memberikan izin legalitas untuk Persebaya yang jelas-jelas asli ini. Dan mereka malah mensahkan "Persebaya Klonengan" yang dibentuk saat PSSI terbelah dua dan setelah PSSI "katanya" kembali bersatu, Persebaya yang asli pun dicampakan dan mereka mensahkan "Persebaya Klonengan" atau biasa disebut Perselanyalla merujuk pada salah satu tokoh yang berdiri dan berlindung di Organisasi Sepakbola kita..
Dan belum lama ini, stasiun tv lokal disana yang sedang membahas tentang Sejarah Persebaya, diserang oleh oknum-oknum ormas dan dengan tingkah kampungan salah satu tokoh ormas tersebut menampar Saleh Mukadar, tokoh dari Persebaya 1927 dan orang -orang yang dibawanya mengajak tawuran bonek yang sedang berada distasiun tv tersebut.
Apakah ini bangsa Indonesia yang katanya telah melalui reformasi? Mana kebebasan pers yang dijunjung tinggi? Bukankah ini memalukan? Ini semua cuma perbuatan bodoh dari oknum yang takut bahwa kebeneran yang sebenarnya akan terungkap!
Kembali ke awal ketika BOPI memundurkan kick off ISL. Semua perwakilan tim berkumpul di bandung dan mengadakan rapat dan mereka bilang "Keputusan BOPI sangat merugikan tim". Tapi ketika PSSI dengan alasan yang tidak jelas meliburkan liga yang baru berjalan 2 minggu, suara tim-tim tersebut hilang ditelan bumi, tak ada kata protes sama sekali. Apakah PSSI telah memberi uang yang banyak shingga kalian bisa diam dengan tenang? Kita tidak pernah tau selama PSSI masih seperti ini.
PSSI selalu berkelit bahwa liga sudah profesional. Tapi apa? Gaji pemain tdak dibayar dan mereka bilang profesional. Mereka bilang bahwa pemerintah tidak bisa intervensi tapi ketika Menpora mulai ikut campur, mereka seperti ketar ketir dan mengadu ke DPR dan Wapres tercinta kita yang kita tidak pernah paham pelet apa yang digunakan PSSI sehingga beliau bisa mendukung organisasi keparat itu.
PSSI bicara sudah memajukan sepakbola Indonesia? Membanggakan U-19? Halo PSSI! Kalau bukan karena Indra Syafri, Timnas kita tak akan juara! Kalau bukan karena kalian mengeksploitasi U-19 mungkin kita sudah melaju ke Piala Asia!
Saya yakin, walaupun Bonek sudah berdemo habis habisan, pejabat terhormat di PSSI tak akan sudi mendengar ocehan bonek, mereka tak akan peduli selama mereka bisa menjabat sebagai orang penting di PSSI yang berapa tahun ini selalu diperebutkan layaknya singgasana raja.
Saya dan kami semua penikmat bola yang peduli, yang bukan cuma suporter sepakbola yang hanya berpikir "yang penting tim jagoan gua main bodo amat ama urusan PSSI" berharap banyak dengan ketegasan dari Menpora untuk menindak tegas organisasi tolol yang berprestasi nol dan membuat peringkat Indonesia dibawah Timor Leste, ya TIMOR LESTE!
Teruskan perjuanganmu kawan, kami mendoakan yang terbaik dari jauh semoga perjuangan kalian akan dicerahkan dan membuka kotoran telinga pejabat-pejabat busuk tersebut.
Dari kami, pecinta dan pendamba sepakbola Indonesia untuk Persebaya 1927 dan Sepakbola Indonesia.
#SurabayaMelawan #BekukanPSSI #RevoluPSSI
Sunday, 13 July 2014
Terima Kasih Malaysia
Tak terasa
dunia perkuliahan yg saya jalani sudah mulai masuk semester akhir. Ibarat
pemain bola, perkuliahan saya sudah memasuki akhir dari karir seorang pemain
sepakbola di lapangan.
Semester 5,
yap semester terakhir saya dalam menjalani praktek di kampus setelah semester 4
saya menjalani apa yang disebut job training yang dimana membuat saya dan teman
teman lain merasakan gilanya dunia industri yang sebenarnya terutama untuk
orang-orang yang bukan lulusan sekolah kejuruan (saya lulusan sekolah menengah
atas jurusan IPS).
Saya
ditransfer ke Negara yang betul-betul asing, Negara yang tak akan pernah
terpikirkan oleh saya untuk melanjutkan hidup saat saya masih SMA. Ya, saya
ditransfer ke hotel “yang katanya” bintang 5 di ibukota Negara tersebut. Di awal-awal
pengumuman saat saya mendengar bahwa saya diterima di hotel tersebut, rasa
senang saya meledak bukan main. Saya akan merasakan hidup mandiri di negeri
orang, jauh dari orang tua, teman terdekat dan tentu saja teman wanita saya
hahaha. Selalu terbayang apa yang akan saya lakukan disana, bagaimana caranya
hidup di negeri seberang yang walaupun masih sangat dekat dengan Indonesia,
tetap saja itu adalah tempat asing yang hanya saya tahu dari berita. Tapi tak
apalah, saya mencoba untuk survive disana, melatih mental saya pikir.
Bulan-bulan
pertama, berat! Dimana kita harus beradaptasi dengan kehidupan dan lingkungan
sekitar, makanan yang memang membuat mual di awal dan tentu saja tempat kerja
yang begitu sulit untuk dijelaskan. Untung saja kami berenam (6 orang mahasiswa
kami ditransfer ke hotel ini) berhasil bertahan di hotel ini sampai bulan
terakhir.
Caci maki
sudah jadi makanan sehari hari disana. Perilaku yang kurang mengenakan dari
staff disana yang mungkin agak sedikit sensitif dengan kami yang berasal dari
Indonesia (walau tak semua staff) sudah menjadi hal biasa. Pergaulan dengan
orang orang lintas Negara, dari Filipina, Srilangka, Nepal, India dan Banglades
membuat kami sedikit demi sedikit mengetahui mereka. Sedikit banyak saya
berbincang dengan mereka yang mana membuat saya berpikir bahwa nasib saya lebih
baik dari mereka. Gaji saya yg hanyalah seorang training hampir sama dengan
mereka yang terbang jauh dari Negara mereka, mereka yang bekerja keras untuk
menghidupi keluarga mereka di tanah mereka yang jauh disana.
Tak sedikit
pula mereka yg pergi ke Malaysia dan bekerja di hotel karena tertipu oleh agen
mereka yang memang hampir semua agen penyalur kerja pembual besar. Mereka
diiming-imingi gaji besar dan pekerjaan yang baik, tapi sesampai di Malaysia
hanyalah menjadi security. Saya mengenal salah satu staff dari Nepal,
sebetulnya dia baru saja lulus sekolah, dengan umur 23 tahun dia pergi ke
Malaysia dan bekerja di hotel tempat saya training. Tak punya pengalaman
apa-apa, para agen tersebut menyalurkan mereka. Yang agak mengherankan adalah
pihak hotel yang seperti tutup mata dengan keadaan tersebut. Apakah karena gaji
mereka murah sehingga mereka tak peduli para pekerja tersebut punya pengalaman
atau tidak? Saya tak tau banyak dan saya tak mau ikut campur dalam urusan
mereka.
Akhir job
training saya ditutup dengan keceriaan. Para manajer hotel dan staff mengadakan
buka bersama sekaligus sebagai perpisahan untuk kami. Ada rasa haru disana,
mungkin hanya saya saja yg merasakan. Kami, yang mereka cap “gagal” masih bisa
di buatkan pesta perpisahan yang walaupun sederhana tapi bagi saya itu
berharga, karena mereka ternyata masih menganggap kami dengan baik. Saya agak
terharu Karena bisa saling tertawa dengan manajer hotel yang biasanya selalu
memarahi kami di hotel.
Pengalaman
gila di sana memang betul-betul membantu kami semua dalam membentuk mental. Di
maki oleh tamu, di maki oleh manajer, halah kami semua sudah kenyang. Disana pun kami bersahabat dengan training
yang berasal dari Jakarta, mungkin di awal kami agak skeptis dengan mereka
karena Universitas tempat mereka berasal adalah Universitas yang terkenal
dengan kaum borjuis. Tapi setelah saling mengenal, ternyata tak ada hal-hal
semacam itu di diri mereka. Bahkan saat kami berpisah di Soetta, 2 orang dari
mereka menangis karena memang akhirnya kita bersepuluh (mereka ada 4 orang)
berhasil lolos dari dunia gila di sana.
Bulan Agustus nanti,
dengan modal pengalaman job training dan tentu saja dengan jas cokelat
kebanggan kampus yang menandakan bahwa kami sudah memasuki semester senja di
kampus akan menjadi manajer bohongan yang akan memimpin praktek di kampus.
Memang waktu berlalu sangat sangat cepat yah, sudah hampir 2 tahun lebih saya
kuliah, bersama kawan-kawan baru di kampus. Dan tahun depan adalah saat-saat terberat
dimana saya akan memulai membuat TA (Tugas Akhir, semacam skripsi di S1 tapi TA
untuk D3) setelah itu pun lulus dan memulai hidup sebagai pekerja, tak bisa
lagi menikmati hidup sebagai mahasiswa yang “Emang Semau Gue.”
Malaysia,
anda berhasil memberikan pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, berhasil
mengajarkan kerasnya hidup mandiri tanpa orang tua disana, hanya berbekal
kepercayaan pada diri sendiri dan teman-teman, terima kasih atas caci maki yang
kami terima disana,
Terima Kasih
Malaysia.
Thursday, 27 March 2014
Fanatiknya Suporter Indonesia dan Sepakbola Alat Pemersatu Bangsa
Indonesia, negeri yang mempunyai puluhan juta jiwa
penduduk yang tersebar di ribuan pulau ini mempunyai beragam, beraneka budaya,
perbedaan sifat, dan banyak lagi perbedaan antara satu orang dengan yang
lainya. Tapi, ada satu hal yang bisa membuat mereka bersatu, tanpa mengenal
asal muasal seseorang, status ekonomi, logat, dan lainya yaitu satu olahraga
yang sangat disukai dan dicintai di negeri ini walau memang tak pernah
menghasilkan suatu prestasi yang membanggakan, sepakbola.
![]() |
| Pujian Untuk Aremania di situs Hamburg SV |
Suporter di Indonesia terkenal luas sebagai salah satu
fans yang fanatic, tak hanya di Asia Tenggara, bahkan Eropa sekalipun sudah
mengakui tersebut. Terbukti saat klub besar Jerman, Hamburg SV datang ke
Indonesia medio Januari untuk melakoni pertandingan persahabatan dengan klub dari
Jawa Timur, Arema Malang. Walau harus diakui pertandingan tersebut bagi Hamburg
hanya bermotif ekonomi semata karena pelatih mereka, Bert Van Marwijk pun
mengakui bahwa pertandingan persahabatan tersebut yang menempuh jarak sangat
jauh Jerman-Indonesia yang butuh waktu waktu sangat lama dalam perjalanan
sangat melelahkan skuad Hamburg tersebut. Gosipnya mereka dibayar mahal oleh
promotor yang mengundang mereka untuk melakukan partai eksibisi itu. Tapi
setelah pertandingan, para pemain dari Hamburg merasa takjub dengan Aremania,
supporter dari Arema Indonesia. Mereka tak menyangka, di belahan dunia lain,
sebuah Negara yang mungkin belum pernah mereka dengar karena memang tak ada
prestasi sepakbola kita yang membanggakan, mempunyai supporter yang begitu fanatic,
yang tak kenal lelah untuk terus bernyanyi, mendukung tim kesayanganya berlaga
dala pertandingan yang tentunya sangat berarti, tak Cuma untuk Aremania, tapi
juga untuk para pemain Arema sendiri, kapan lagi mereka bisa merasakan satu
lawan satu melawan Rafael Van Der Vaart yang juga salah satu pemain kelas
dunia, bermain di stadion Kanjuruhan yang jika dibandingkan dengan stadion
Hamburg, kalah jauh.
Jika kita melihat situasi stadion di Liga Indonesia
saat pertandingan, hampir pasti penuh terutama untuk tim-tim yang memang
terkenal punya basis supporter yang besar seperti Arema, Persib, Persija,
Persebaya, Persipura dan klub-klub lainya. Setiap ada pertandingan rasanya
seperti satu hari itu diluangkan untuk menonton tim kesayangan bertanding, entah
menonton langsung di stadion atau menonton di layar kaca karena tak sempat
datang ke stadion.
![]() |
| Kreatifitas Slemania |
Atmosfir stadion di
Indonesia begitu mencerminkan bahwa sebetulnya dalam sudut pandang supporter
kita tak kalah dengan supporter dari klub-klub besar Eropa yang biasa kita
tonton di layar kaca, walau tentunya jangan dibandingkan dengan gaya
permainanya dan manajemenya. Kita hanya focus dalam membicarakan supporter
saja. Suporter kita sebetulnya sangat kreatif, jika anda pernah menonton PSS
Sleman saat bertanding maka kalian akan melihat betapa kreatifnya mereka,
koreografi yang menawan walau masih ada kekuragan dengan flare yang masih
menyala di berbagai sudut.
Sebetulnya flare
adalah tradisi, walau memang harus diakui bahwa flare sangat merugikan
pertandingan karena asap yang dihasilkan flare tersebut bisa menggangu jalanya
pertandingan, bahkan pertandingan bisa berhenti untuk sementara sembari
menunggu hilangnya flare tersebut.
Suporter di
Indonesia sangat fanatik, sangat hebat saya rasa. Saya masih ingat saat AFF
2010 dimana euforia meledak dimana-mana mengingat permainan Indonesia yang
begitu menawan walau akhirnya harus kalah di Leg 1 di Bukit Jalil melawan
Malaysia yang sampai sekarang masih jadi misteri apakah ada skandal atau tidak.
Saya ingat disaat situasi mulai lesu, saya dan teman saya pun sudah berniat
untuk menjual kembali tiket untuk Leg 2 yang diadakan di GBK karena sudah tak
ada rasa optimis, tapi membatalkan niat untuk menjualnya karena masih ada
sedikit keyakinan bahwa Indonesia bisa membalikan keadaan. Akhirnya memang
Indonesia tak mampu membalikan keadaan, tapi euforia di Gelora Bung Karno
sungguh luar biasa. Gelora Bung Karno seperti tak mampu untuk menutupi ledakan
ribuan penonton yang ingin mendukung langsung Indonesia melawan musuh bebuyutanya,
melebihi kapasitas dan saya rasa hampir mendekati 100.000 penonton di dalam
stadion dan masih ribuan penonon di luar stadion yang memang tak mendapat
tiket. Bernyanyi bersama demi Merah Putih sampai peluit tanda berakhirnya babak
kedua dibunyikan, saya merasa bangga berada di kerumunan supporter gila ini.
Namun sayang,
fanatisme ini kadang suka terlalu
berlebihan, bahkan merugikan khalayak luas, terutama di tingkat klub. Selalu
saja ada keributan di khalayak supporter terutama jika bertemu dengan klub
rival, seperti derbi Persija-Persib. Bahkan ada kabar selalu saja ada korban
jiwa jika kedua tim ini bertemu. Tentu sangat disayangkan jika klub yang secara
geografis ini hanya berjarak 2 jam ini saling bermusuhan.
Coba bayangkan jika
tak ada permusuhan di antara kedua belah pihak, hanya ada permusuhan di dalam
stadion, yaiutu saling adu kreatifitas dalam mendukung tim masing-masing, itu
akan jadi hiburan yang hebat untuk kedua belah pihak.
Sepakbola itu hebat,
supporter Indonesia itu sangat fanatik denganya. Kalau bisa dimanfaatkan dengan
baik tanpa ditunggangi kepentingan lain, sepakbola bisa jadi alat untuk
pemersatu bangsa sepeti bila timnas bermain, tak peduli dia pendukung klub apa,
darimana, semua akan bersatu, bernyanyi bersama untuk mendukung para pembawa
lambang Garuda mengharumkan Merah Putih di atas lapangan.
“Sepakbola adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa untuk
kita semua, manfaatkan dengan sebaik mungkin sebagai alat untuk pemersatu
bangsa, bukan untuk memecah belah bangsa.”
Sunday, 23 March 2014
Passion ?
Passion,
apa sih passion sebenernya? Kenapa banyak orang yang suka bicara tentang
passion-passion apalah itu. Apa sih sebenernya?
Menurut
saya pribadi sih, passion itu semacam keinginan yang memang benar-benar kita
inginkan untuk melakukanya. Tapi, ga semua yang kita lakuin itu sesuai dengan
passion kita sendiri. Gak semua yang kita lakuin itu sesuai dengan apa yang
sebenernya kita pengen. Kadang kita ngeliat orang yang ngejalanin hidup ataupun
pekerjaanya yang memang sesuai dengan passionya. Dan kita pun seketika merasa
agak sedikit iri, kenapa kita gak bisa kaya mereka? Kenapa kita gak ngejalanin
hidup dan pekerjaan sesuai dengan passion kita? Yang bener-bener kita inginkan
? Kenapa mereka bisa sedagkan kita enggak ? Apa ada yang salah?
Kalau
kata orang-orang, masa depan itu misteri. Ibarat kata hidup kita itu kaya novel
yang masih dalam masa penulisan. Kita ga selamanya bisa ngelakuin semuanya
sesuai dengan apa yang kita pengen. Saya pengen jadi jurnalis, tapi sekarang
saya kuliah di perhotelan. Gak semuanya sesuai dengan apa yg lo pengen.
Walaupun hati nolak, tapi itu memang kewajiban dan Alhamdulillah saya sekarang
sudah hampir lulus, satu tahun lagi insya allah. Walau perhotelan bukan passion
saya, seenggaknya itu memang pilihan sejak awal. Kita memilih, kita tanggung
jawab dengan pilihan tersebut, simple. Ini bukan game yang bisa kita restart
lagi kalo udah nyesel, ini dunia nyata yang gak ada kata restart, yang ada Cuma
continue . Yang bisa kita lakuin Cuma ngejalanin
semuanya dengan seikhlas mungkin, walau emang ngerasa “ini bukan passion gue”
tapi itu pilihan lo, ya tanggung jawab dengan pilihan. Sama aja kaya lo mutusin
buat pacaran, nah harus tanggung jawab kan sama hubunganya. Passion ga selamnya
harus kita turutin karena ga selamanya passion itu bakal ngedatengin kesuksesan
dalam hidup, kalau menurut saya sih gitu walau emang banyak teman saya yang
ngejalanin hidupnya sesuai dengan passion mereka sebagai musisi and they
can.
Okey, passion ga selamanya harus
jadi yang utama dalam hidup, kita bisa lakuin itu jadi side job, anggep aja
nyalurin hobi yang bisa dilakuin kalo lagi ga sibuk dengan kerjaan. Inget aja,
hidup cuma sekali, jangan selalu ikutin kata hati, pikir pake logika dan pakai
pertimbangan yang matang.
There’s
no second chance, life is not Nintendo game – 2Pac.
Now You Better Believe! #YNWA
Ini
cerita tentang klub yang pernah Berjaya di era sebelum 90an. Klub yang begitu
ditakuti di seantero Eropa yang mendengar namanya saja, lawan pun ciut karena
kedahsyatan mereka. Mereka merajai Inggris dan juga Eropa, dengan 18 gelar liga
Inggris dan 4 gelar Liga Champions di era 60-80an, mereka begitu dihormati.
Tapi semua berubah saat memasuki era 90an, dimana era Liga Premier
dimulai. Klub yang dulu begitu merajai
Inggris berhenti mendadak, stuck di masa lalu seakan akan tak bisa move on dari
masa lalu. Tak perna berhasil meraih gelar liga Inggris, hanya gelar minor di
Inggris dan Eropa.
Untunglah
di tahun 2005, keajaiban itu mucul. Perjalanan menuju final yang begitu
berkelas diwarnai kontroversi di semifinal saat gol si nomor 10 yang masih diperdebatkan
sudah melewati garis atau belum yang berhasil mengantar klub ini melaju ke
Istanbul, tempat digelarnya final UEFA Champions League. Di final, lawanya
adalah salah satu raksasa Italia, Eropa dan dunia. Sama-sama berbaju merah
dengan materi pemain yang jika di atas kertas, klub dari Inggris ini taka da
apa-apanya. Dan benar saja, di babak pertama, klub Inggris ini tak berdaya dan
diluluh lantakan 0-3 oleh raksasa Italia ini.

Entah
apa yang dilakukan sang pelatih dari klub Inggris tersebut, memasuki babak
kedua, diawali dengan gol header dari sang kapten, tendangan dari luar kotak
penalti pemain cadangan yg baru saja masuk, dan penalti yang walau berhasil di
tepis tapi sang pemain berhasil memanfaatkan bola rebound tersebut, skor
berubah menjadi 3-3 hanya dalam waktu 6 menit! Semua tercengang, bahkan para
pemain dari klub italia tersebut yang kabarnya sudah bernyanyi seakan mereka
akan juara dengan mudah saat istirahat babak pertama, terkesan shock, tak
percaya bahwa klub asal Inggris ini bisa memutar balikan semuanya.
Penampilan
hebat klub Inggris ini yang berhasil
menahan gempuran raksasa Italia termasuk saat babak perpanjangan waktu, striker
tajam klub Italia asal Ukraina tinggal one-on-one dengan kipper tapi seperti
grogi dia tak bisa menceploskan bola ke gawang. Dan akhirnya pertandingan
melaju ke babak penalty, beberapa penendang dari kedua belah pihak sama-sama
ada yg berhasil dan tidak berhasil. Akhirnya penentuan ada di pundak sang
striker asal Ukraina yg td gagal dalam one-on-one dengan kiper klub Inggris
asal Polandia. Suasana stadion dan pemain dari kedua belah pihak terdiam,
mencekam menanti hasil dari penalty ini. Dan,
sang striker Ukraina itu menendang bola ke tengah dan kipper polandia
tersebut sudah salah jatuh ke kanan, tapi tanganya masih bisa menggapai bola
tersebut. Dan anda pun tahu siapa klub yang saya maksud di atas dan istilah
terkenal mereka, “Miracle of Istanbul”. Yap, Liverpool berhasil membuat rugi
rumah judi dengan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi juara melawan sang
raksasa Italia, AC Milan.
Musim
ini, setelah beberapa tahun Liverpool absen di Eropa karena masalah performa
dan lain-lain, sekarang terlihat bahwa tim ini memang seharusnya pentas di
Eropa, karena sudah tradisi mereka untuk tampil di Eropa. Permainan yg ciamik
di bawah komando sang pelatih muda, Brendan Rodgers, dibawah bimbingan sang
kapten legendaris, satu-satunya pemain yang tersisa dari skuad Miracle of
Istanbul, Steven Gerrard dan duet maut di lini depan SAS, Suarez-Sturridge yang
masing sudah mencetak 27-19 gol di Liga Inggris dan juga belum pernah kalah di
tahun 2014 ini. Setalah terakhir menjadi kandidat juara di tahun 2008 yang
mengakhiri musim di posisi kedua, sekarang menjadi title contender lagi berkat
permainan yng mengesankan dari Anfield Gang ini. Target utama di awal musim
adalah merebut jatah ke Liga Champions, hal yg sudah 70-80% akan di raih,
lama-kelamaan berubah menjadi perebut gelar juara, suatu hal yg diidam-idamkan
karena sudah 20 tahun lebih Liverpool tak meraihnya. Nada optimisme dari
supporter coba diredam oleh Rodgers yang selalu bilang kalau Liverpool tak
pernah memikirkan gelar juara, hanya liga chmapions saja. Tapi dari penampilan
klub sampai sekarang, siapa yg meragukan kemampuan Liverpool untuk jadi juara?
Saya ingat saat Liverpool mengalahkan MU 0-3 di Old Trafford, komentatornya
bilang “ Title Contender? Now you better believe” Harapan memang selalu ada
tapi skuad Liverpool selalu bilang hanya focus ke laga berikutnya, karena nanti
mereka masih akan melawan City dan Chelsea di Anfield, 2 pesain terkuat saat
ini dalam merebut gelar. Tapi tak ada yang tak mungkin, mungkin nanti ada
Miracle lain setelah Miracle of Istanbul.
Now,
You Better Believe! #YNWA
Sunday, 2 February 2014
Sabar, Moyes Butuh Waktu
Manchester United tim medioker ? Kalau diliat dari sejarah dan performa
mereka selama ini (sebelum musim ini) berlangsung, pasti banyak yang tak
menyetujui jika julukan ini disematkan untuk tim yang baru saja merengkh titel
Liga Inggris ke 20, sekaligus menjadikan Sir Alex Ferguson sebagai manajer
tersukses di Liga Inggris. Lepas dari kontroversi yang dia hasilkan, tak bisa
dipungkiri bahwa dia adalah manajer yang hebat yang siapa yang akan menebak 18
gelar liga Inggris yang dipegang oleh Liverpool akan di salip oleh MU bahkan
unggul sampai 2 gelar.
Tapi di musim ini, di bawah kendali “The Chosen One”, David Moyes,
mereka tampil bak tim medioker, yang bertarung untuk memperebutkan papan tengah
Liga Inggris. Ya dan tentu saja bisa anda tebak, dengan hasil seperti ini
banyak sekali fans MU yang meminta agar Moyes dipecat sesegera mungkin. Mereka
lupa bahwa ini adalah musim pertama Moyes mengambil alih kendali dari sang bos
besar Fergie. Mereka lupa bahwa setiap tim manapun pasti butuh adaptasi dengan
pelatih baru. Mungkin kasus ini bisa disamakan dengan Liverpool yang musim lalu
mendarat di posisi ke 7 di musim pertama Brendan Rodgers.
Kecewa? Pasti banyak fans MU yang kecewa dengan hasil yang diperoleh MU
sejauh ini. Dan rata-rata mereka adalah fans baru yang memang tak biasa melihat
MU untuk kalah karena selalu terbuai dengan kesuksesan dari tangan dingin
Ferguson. Mereka lupa, di awal karir sang bos di MU, dia pun butuh waktu 4
tahun untuk mendapatkan gelar pertamanya, setelah itu dia tak terbendung lagi,
menghancurkan dominasi Liverpool yang puluhan tahun merajai Liga Inggris.
Tapi zaman sekarang, dimana kesabaran itu hal yang mahal, dimana banyak
pemilik asing di klub-klub Inggris (MU
pun memiliki Glazer yang asal Amerika) yang hanya berorientasi tentang bisnis
sehingga mereka menginginkan kesuksesan instan seperti halnya Chelsea yang
sudah memecat pelatihnya berkali-kali tapi memang membuahkan hasil dengan
berhasil meraih gelar. Dan para fans tim lain pun semakin menjadi-jadi melihat
keberhasilan Chelsea yang walaupun memecat pelatih berkali-kali dan malah
berhasil menggapai kesuksesan.
Untuk fans MU, banyak-banyaklah belajar dari fans Liverpool dan
Arsenalm terutama dengan Arsenal yang walaupun tak pernah mendapat gelar apapun
selama 9 tahun, tapi mereka tetap sabar untuk mendukung Arsenal di bawah
kendali Opa Wenger yang notabene menggantikan posisi Fergie sebagai manajer
terlama di Liga Inggris. Jangan hanya gara-gara MU kalah terus-terusan malah
pindah klub lain, itu karbitan, konyol.
Moyes butuh waktu untuk membangun fondasi baru MU sesuai dengan yang ia
inginkan. Memang mungkin ia membuat blunder di awal musim dengan mendatangkan
Fellaini dengan transfer yang lumayan “waw” tapi malah jeblok dan kalah
bersaing dengan pemain-pemain lama MU lainya, bahkan kalah performanya dengan
si gaek Giggs. Tapi sekali lagi, Moyes butuh waktu, ia bukanlah orang pintar
dengan taktik jenius seperti Guardiola. Ia hanya mantan pelatih Everton yang
notabene hanyalah tim papan tengah di Inggris. Berbeda dengan di Everton yang
tekananya tidak terlalu besar karena mereka hanya dituntut untuk finish
setinggi mungkin dan terhindar dari papan bawah, MU adalah tim papan atas yang
juga selalu punya tuntutan besar untuk selalu meraih gelar setiap musim. Di
Everton, Moyes hanya punya dana sedikit untuk membangun tim tapi ia bisa
bertahan lama disana karena memang dia berhasil untuk membawa Everton tak
berada di papan bawah, bahkan berhasil menembus zona champion di musim
2004/2005. Di MU, dengan dana melimpah ia bisa dengan seenak udel untuk
membongkar pasang tim sebenarnya. Tapi ia tak punya banyak waktu saat musim
panas tahun lalu. Incaranya, Thiago Alcantara dan Cesc Fabregas yang
diproyeksikan untuk menggantikan posisi sang leader lini tengah, Paul Scholes
tak bisa didapat karena Thiago memilih pindah ke Muenchen dan Fabregas memilih
bertahan dan saya yakin tak akan mau pindah ke MU karena cintanya untuk
Arsenal.
Alhasil ia pun “hanya” mendapat mantan pemainya di Everton, Fellaini
yang didatangkan dengan ekspektasi besar ternyata malah nol.
Tapi beruntunglah Moyes karena berhasil mendapatkan Juan Mata yang
secara mengejutkan dilepas oleh Chelsea. Tapi dengan datangnya Mata, bukan
berarti masalah selesai. Penumpukan pemain di posisi Mata terlalu banyak.
Sejujurnya MU lebih butuh gelandang, seorang maker yang bisa mengontrol
pertandingan layaknya Scholes.
Langkah awal merevolusi MU sudah mulai terlihat dengan dibuangnya
Anderson, Fabio dan Zaha. Pemain itu memang tak terlalu dibutuhkan dan jarang
sekali dimainkan oleh Moyes. Di musim depan pun sepertinya akan ada eksodus di
MU. Tentara tua peninggalan Fergie seperti Ferdinand, Vidic, Evra, Nani dan
pemain lainya yang mulai menua dan tak terpakai sepertinya akan pergi
meninggalkan Old Trafford.
Jadi sebaiknya jika kalian memang mecintai MU, benar-benar fans MU,
dukung mereka, dukung Moyes jangan cengeng sedikit-sedikit memaki minta Moyes
dipecat.
Revolusi butuh waktu dan Moyes butuh waktu entah cepat atau lambat, MU
pasti akan bangkit kembali dan jadi macan ganas kembali. Jangan pernah jadi
karbit karena itu hanyalah untuk supporter dengan mental tempe yang labil.
Kesabaran memang terbatas, tapi pasti akan menhasilkan sesuatu yang
baik nantinya, jadi bersabarlah fans Manchester United!
Subscribe to:
Posts (Atom)





